semoga bukan pengalih perhatian

Entah mengapa suudzon mudah sekali muncul, bahwa penangkapan dan penyerangan terhadap terduga teroris adalah pengalih perhatian. Tentunya aksi seperti itu tidaklah terjadi segera begitu saja. Perencanaan matang pasti sudah dilakukan. Dengan perencanaan yang matang tentunya juga penangkapan terduga teroris ini bukanlah pengalih perhatian dari masalah lain. Semisal penuduhan terhadap Susno, atau penguatan koalisi Golkar-Demokrat selepas Sri Mulyani mengundurkan diri.

Kerahasiaan pasti ada dalam penyergapan teroris, jadi tentunya kita tidak bakalan tahu rencana rinci kapan lagi bakal ada teroris mati tertembak. Bahwa terjadi setelah Susno jadi tersangka, itu kebetulan saja. Apalagi dikaitkan dengan pengangkatan Ical jadi Ketua Harian Sekertarian Koalisi. Tentunya benar-benar jaka sembung.

Menduga dan mengira-ngira (untuk yang sedang dan telah terjadi) menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan. Terutama jika yang sedang terjadi itu memang diliputi kerahasiaan, atau tidak sepenuhnya transparan. Tidak transparan macam penjelasan sikap politisi yang berubah begitu saja tanpa fakta baru. Belum ada fakta baru yang diungkap ke publik, tapi golkar telah berubah sikap. Pelontar pernyataan “peti-es” telah pula meralat pernyataannya. Jadi cooling down secara politis.

Remang-remang tidak jelas, jadi enak menebak seperti apa sebenarnya yang terjadi. Karena peluang tebakannya benar tetap ada dan tetap tidak pasti. Kalau terang benderang transparan, tidak menyenangkan lagi  menduga-duga.

Menyergap dan menangkap atau terpaksa membunuh teroris adalah prestasi. Terlambat sekalipun, atau momennya terkesan dipaksakan, tetap saja lebih baik dari tidak sama sekali. Prestasi ini bakal lebih dihargai publik jika disertai keterusterangan mengenai kasus Susno, yang sekaligus peluang pembersihan diri kepolisian. Sekalian sikat semua polisi ngaco tukang makan suap. Jadi yang tersisa hanya para polisi hebat bersih dan gagah. Polisi yang memberantas korupsi dan memberantas koruptor sekalipun koruptor itu berseragam polisi juga.

Tinggal media massa juga berjualan dengan fair (mudah-mudahan seperti biasanya). Jangan terus mengekspos kematian terduga teroris terus lupa membuat acara talk show para pediskusi korupsi lembaga penegak hukum.

Tulisan ini dipublikasikan di Berita, Opini dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>